Jumaat, 13 Jun 2014

Isi Rimba

kini isi rimba sudah tidak lagi memiliki ke kehidupan, entah mengapa ini harus terjadi.

apakah ini salahku.?
atau kesalah semua orang.?
kemanaka kehidupan dimasa lalu itu ayah.?

         Aku ingin berteriak lewat lorong batu dinar, mengungkap cintaku dan juga janji setiaku untuk negeri ini,
kepada sang serdadu Alam ini.
yang telah mengering di setiap lembah jurang dan perbukitan safana disana.

       namun apakah mereka dapat mendengarkan jeritan jiwaku ini dan kembali menyapaku dengan giringan air hujan, membasahiku dengan embun pagi di ubun-ubunku ...
mungkin saja mustahil ini akan terjadi

         Ayah .....
tapi apakah jika aku berbisik ditelingahmu dan berkata aku mencinta kekasihku
mengungkap permintaan terakhir ku sebagai seorang anak dan mengharapkan Do'a restu daramu.
agar ku dapat menapaki langka kaki ku kedepan istana sang kekasih.
 
         Ayah ....
apa mungkin kamu bisa mendengarkan aku, mengabulkan permintaanku dan membasuh bahu ini sambil mengatakan amin jika kamu mencintai perempuan mu itu berjalanlah sebagai laki-laki yang berani, tak takut maut yang sewaktu - waktu akan datang merayu mu untuk masuk kejalannya tak takut mengambil semua resiko dari hidup ini.



                                  Afrissal Ghizbayo
                                       09 - 06 - 2014

Jumaat, 21 Februari 2014

KERETA API EKONOMI PASUNDAN

( TULISAN KECILKU ) Kisahnyata yang aku Alami sendiri

KERETA API EKONOMI PASUNDAN

Cilacap Sabtu tgl - 07-12-2013 tepat pada Pukul / 11.01 
                   Di dalam ( kereta Api Ekonomi Pasundan ) Aku berdiri di depan pintu gerbong ke enam kereta dan mencicipi sebatang Rokok sambil milihat-lihat pemandangan dan Ladang  persawaan-nan luas yang barusaja di panen olah sang pemiliknya  yang ada di sekeliling pedesaan di perbatasaan Jawa Barat dan JawaTengah ( Cilacap ) di situ di dalam gerbong ke enam itu  kedua bola mataku melihat seorang Nenek tua rapuh yang bersusa paya menggendong karung tak lain di dalam karung yang digendongnya itu berisi barang dagangannya dia berjualan di dalam kereta yang aku tumpangi di hari itu ,  si nenek tua itu sembari  menawarkan barang daganannya kepada penumpang yang ada termasuk juga diriku nenek itu sempat menawarkan buah yang di pegang olehnya, barang dagangannya adalah buah salak yang mungkin saja hasil panen dari kubun kecilnya , disaat itu juga aku melihat datangnya seorang petugas keamanan kereta ( Satpam ) dengan serangam lengkapnya dan memakai jaket kulit berwarna hitam pekat  masuk kedalam gerbong ke enam dan meminta permisi kepadaku katanya , monggo masss... “ aku pun menyahut “ ya... silahkan Pak ‘ sambil bergeser dengan maksud memberikaan sedikit jalan untuk si petugas itu , dia berjalan tertuju kepada si Nenek tua yang sedang memikul barang dagangannya yang di taru dalam karung kusut yang berwarna putih kecoklatan  akupun lepskan pandanganku dan melihat-lihat rell kereta yang terbentang panjang sejau mata memandang.
      Tak lama kemudian terdengar suara yang keras yang keluar dari mulut si petugas tadi katanya ,” Nek cepatlah kamu turun dari kereta ini dan jangan lagi kamu datang kesini ataupun berjualan disini-disini bukan tempat untuk berjualan  ,” kemudian sipetugas itu memegang tangan si Nenek dan menyeretnya agar cepat keluar dari kereta yang aku tumpangi , si nenek itu di seret sampai tepat di hadapanku orang-orang yang bereda di sekelilingku saat itu mereka hanya  melihat dan mendengar, ocehan petugas kepada si nenek dengan bahasa daerah mereka yang tak lagi aku mengerti apa arti dari ocehatnya itu , yang lainnya hanya duduk diam dan pura-pura tidak mendengar atau mugkin saja mereka tidak mautau-menahu apa  yang sedang terjadi di sekeliling mereka ,mataku sempat menangkap tingka yang lain ada juga yang membuang pandangan mereka sambil manikmati asap rokok yang di hisap oleh mereka dan melihat pemandangan di pinggiran pedesaat itu.
         Pada saat si petugas menghentikan ocehannya terhadap si nenek itu
si nenek  pun langsung saja membuang suaranya yang pelan dan halus kata yang di awal dengan kata maaf terhadap si petugas itu “  Maaf Nak jika aku ini salah tempat dalam mencari Rijki untuk mengganjal purut aku agar dapat  menyambung hidupku di hari tua ku  yang  hanya sebentar ini dan juga tak lama di dunia “   di sambung dengan Istigfar Panjang dari bibir kusutnya yang telah di makan usia itu  “ Astagfirullah Halajim....!!!
Aku hanya diam menatap wajah keriput nan polos dan bola mata yang telah  berkaca-kaca dengan sidikt air mata yang terkumpul di bola matanya yang jujur itu . Si nenek terus mengucap Istigfar dan juga melontarkan  “ nama  Sang Halik , Sang pemberi Rijki , sang pemberi nafas , dan sang pemilik hidup darisegala kehidup disemesta ini ,” dengan suara - yang sedikit keras  ”, Allah Huakbar , Subhanaulah , Lailahha Ilallah Masya Allah ,”  Lalu –iya berkata kepada si petugas keamanan itu sembari memberikan sedikit pertanyaan kepada si petugas itu .
    
Hay.... !!!
       Naak ...!!!
* Apaka kamu ini tidak sadar agar dapat mengucapkan istigfar dari mulutmu itu ?
* Apaka kamu tidak tau atau kamu hanya berpura-pura tidak mengenal siapa diriku ini ?

          
 sampai-sampai kamu tega dan seberani - beraninya memasang dada kamu untuk melempari aku   dengan ocehan –  ocehan kamu ke  aku Nak ...!!!
bahkan kamu dengan keberaniaanmu itu , kamu gunakan untuk  mencacimaki aku seperti anjing peliharaan di rumah mu sendiri , apa kamu tau atau tidak ? Jika aku ini adalah satu orang perempuan tua bukan lagi wanita yang masi kecil. Diri perempuan tua  ini  tidak tau apa-apa tentang pereturan yang ada di dalam kereta api ini  Bahkan ditenga banyak orang sekalipun kamu  bersuara dengan keras  dan juga merasa bangga dengan semua ucapanmu yang kotor itu  aku melihat jelas di wajahmu dengan mata rabunku ini  jelas - jelas terlihat oleh ku bahwa kamu merasa bangga karena telah memperbuaat aku sedemikian tadi .

Naak...!!!
 Mungkin saja semua orang menganggap aku ini hanya satu orang nenek tua yang miskin tidak ada apa-apanya di banding dengana mereka dan juga posisimu  yang  menjadi  seorang pengamanan di dalam kereta api ini , bisa saja mereka menganggap aku mengganjal perut ku dengan memakan - makanan dari hasil mengemis di  jalanan dan mungkin saja mereka mengaggap aku ini binatang jalan yang hidup tidak bertuan dan sembarangan masuk di pekarangan rumah orang ,  sama persis seperti kamu memperlakukan aku dan menyeret-nyeret aku agar aku cepat-cepat bergegas turun dari kereta ini. 

Naak ... !!!
 kenapa hanya perempuan tua seperti aku yang kamu perlakukan seperti ini ?
 bukankah masi banyak orang lain di sana yang berjualan barang dagangan mereka di dalam kereta ini ?
 mengapa kamu tidak mengusir mereka seperti kamu mengusir ku tadi apakah mereka tidak senasip dan sejalan dengan diriku ini ?


aku baru saja sekali dalam hidupku berjualaan hasil kebunku di dalam kereta api dan aku di usir seperti bidatang oleh kamu Naak !!!
apakah mereka masuk kedalam kereta api ini tidak berjualaan dengan tujuaan utama mereka sebagai pencari rijki dari Gusti Allah melainkan hanya berteriak kosong tidak ada maksud menjuaal barang dagangan mereka.
bukanka mereka lebi berisik dari aku ... bukan ka mereka lebi memaksa kepada para penumpang kereta agar membeli barang mereka .....
sungguh tidak adil sikapmu terhadapa orang terhina seperti aku ini nak ...!!!

Naak ...!!!
Akan aku beritahukan satuhal kepeda mu dan aku berharap kamu dapat mengingatnya samapai kamu berjalan dan melangka tertati-tati di atas jalan yang seperti  aku berada di posisinya skarang ini naak (di masa-masa Usia Tua ini ) .
aku ulangi-lagi kata si nenek itu semakin memper tegas dan semakin memperbesarkan suaranya  langsung saja Si nenek melajutkan Ucapannya.

                   “ Asalkan kamu tau Naak ....
Aku si perempuan tua rapuh ini adalah Ibu’mu , akulah titipan sang wujud dari semua wujud ke ibuan yang ada di seluruh semesta ini, akulah ibu dari ibu’mu bahkan ibu dari semua ibu di alam ini ingat itu naak . Cukupkanlah ocehan kotor mu itu disini saja , di telinga orang tua rapuh ini , di orang tua yang pelinghina di mata mu ini naak ... 
Jangan lagi kau ulangi di telinga dan wajah orang tua lain atau seorang ibu yang lain bahkan kepada siapapun sebab aku dan semua seisi Alam semesta ini adalah diri Sang Halik yang nampak , apaka kamu tau semua ini akan di kembalikan kepada yang memiliki hakikat  dari semua hidup dan kehidupan ini , jadi janganlah kamu menyombongkan dirimu  dengan keegois mu yang berlandaskan  alasan ini pereturan dan perinta yang harus kamu jalankan namun keliruh apa yang telah kamu perbuwat  terhadap diriku barusan  tadi  Ku monhon kepada kamu nak bersikaplah dengan yang sederhana yang bisa di terima oleh sesama mahluk jangan sampai kamu kualat dengan sikap-sikap kamu itu sendiri.“

Jumaat, 12 April 2013

Dhya Itu IchalD

USIAKU 41 TAHUN (MABAPURA)



Oleh;
Muh zaid. Latawan (Mahasiswa Mabapura)

Aku dipindahkan dengan penuh cinta, sekalipun banyak menelan korban dan nyawa. Aku dipindahkan oleh para selir dan resih, (Om Haji Musa Kiye, Om Haji Ibrahim Maneke, Tete Nyong Cina, Tete Kios, Tete Bab, Tete rojau,). Sebagian dari mereka telah dipanggil sang Ilahi,(meninggal) dan ada yang masih hidup, Om Haji Musa Kiye, Om Haji Ibrahim Maneke.
Diriku mempunyai alam yang indah, pepohonan, dan lautan yang tenang. Panas tidak terlalu, dingin juga tidak terlalu. Kehidupan masyarakatku penuh taburan cinta,kasih, dan sayang.
Aku mempunyai tanah yang subur dan Pohon yang begitu menghijau melambangkan kemakmuran rakyatku, yang bertasbi dengan kalimat cinta, berzikir dengan kasih, dan sayangku. Lautan yang begitu tenang, masyarakat menyebutku berjalan dalam telaga melambangkan akan jiwa (hati) masyarakat yang sabar. Walaupun masyarakatku mempunyai banyak masalah.
Seore minyo talilamai, minyo duka rebalisa adalah jubaku yang di balut dengan tarian lalayon (Lailaha illaullah), sebuah kalimat tauhid (Allah).Aku mewariskan budaya pada anak-anak dan masyarakatku (Angaku rasai, sopan re santun, budi re bahasa, takut- malu, popoje sema gale-gale) sebagai fondasi kehidupan mereka.
Kini di usiaku 41 tahun, aku terhina dengan usiaku yang telah senja. Kehinaan di lakukan oleh anak-anak dan masyarakatku sendiri. Tanah, pohon, dan laut yang ada dalam diriku tidak lagi bertasbi,berzikir, atas nama cinta yang aku taburi pada anak-anak dan masyarakatku. Diriku tidak lagi ada harganya seperti seorang wanita yang tidak mempunyai harkat dan martabat di mata agama dan sosial. Lautan (hati/jiwa), telah di nodai dengan tintah merah oleh para kapal besar (ekspor) di hadapan wajah anak-anak dan masyarakatku. Tanah dan pohon yang dulunya hijau serta makmur kini di nodai oleh tenaga mesin (Buldoser), gusur seluruh tubuhku yang telah senjah ini, juga di saksikan oleh anak-anak dan masyarakatku sendiri.
Seluruh tubuhku dihancurkan oleh mereka, hanya satu harapan bagi anak-anak dan masyarakatku bahagia, bahagia,bahagia, bahagia, sekalipun aku harus menderita sampai pada akhir hayatku. Noda merah (tanah merah) yang ada dalam tubuhku, mudah-mudahan ini peristiwa padang karbala yang melanda ahlul bait, putra imam Ali buah hati Fatima az-zahra cucu Rasul (Imam Husain). Ku harapkan anak-anak dan masyarakatku mengingat peristiwa ini (bulan muharam/assurah).
Ternyata aku salah, salah, salah, salah, aku hanyalah sebuah kampung dengan nama mabapura yang di pindahkan pada tanggal 16 Desember 1971. Dan aku tidak akan mungkin menjadi padang karbala.
Wahai merpati-merpati putih yang sedang berjihad di bidang ilmu pengetahua. Aku merindukan tongkat nabi Musa, taburilah diriku dengan pengetahuan kalian, agar aku merasakan kenikmatan pengetahuan kalian. Aku mengihlaskan kalian beterbangan kenegeri saba. Negeri para ratu yang sadar akan hakekat sebuah keyakinan pada tuhan.
Wahai,, merpati-merpati pengetahuan rinduku pada kalian meruang dan mewaktu, sekalipun aku tidak tau warisan pengetahuan apa dan peradaban apa yang akan aku warisi.`









YangKu Tau


Kamu tak pernah tau
apa yang aku tau dengan diriku
kamu tak pernah tau
apa rasa yang ada dalam diriku
kamu tak pernah tau
apa yang aku nikmati dalam diriku
selama ini sayang ku

kamu anggap apa tentang aku
dengan perasaan aku yang kian
terikat dengan jiwamu ini
bahkan tak mampuh untuk
aku bendung lagi rasa yang
semakin menikmat sampai melemaskan
detak nadiku , ubun-ubunku , dan akal sehatku ini

di setiap langka kakiku disitu langkamu
di setipa helaan nafasku disitu nafasmu
di setiap mimpiku disitu mimpimu
di setiap pandanganku di situlah wajahmu

yang aku padangi walau hanya pandangan
yang sekilas ku lihat namun terlihat jelas
yang nampak disudut pandangku adalah dirimu
yang meyambut aku dengan senyumanmu nanmanis itu.
Afrissal.Ghizbayo
Yogyakarta:09/03/2013


Anggur Merah dan Mabukku




Aku menikmati secawan anggur merah 
di malam hari dan membuwatku mabuk 
dalam kenikmatan Cinta kasih 
disaat yang bersamanpun aku mendengar 
suara nyayian Kafila-kafila malam datang

sembari menghampiri diri ku ini
dan menyayikan lagu tentang cinta 
yang membuwat aku merasakan 
nyatanya Cintaku ini untukmu kekasihku 
walau haya dalam hayalan dan imajinaji belaka

namun dapat membuwat aku Frustasi 
dengan kehangantan yang takpernah 
aku rasakan sebelumnya pada masa lalu
disaat aku tenggelam dalam imajinasi 
disana aku merasa bercembuh dengana dirimu kekasihku

wahai separuh Nafsku yang sedang
bermunajat dengan pencarian takterbatas 
di kerajaan seberang yang berada di wilayah timur
di saat ini malam ini aku pun terkotang - katung dengan
bayang-bayang semu wajahmu Yang Indah, 
cantik, manis, dan juga anggun itu kasihku. 


Afrissal.Ghizbayo
Yogyakarta : 20/02/2013

Baru Aku Mengerti



Baru aku bisa mengerti
dan menyadari sekarang ini sayangku
kalau aku ini egois dan salah
bahwa selama ini aku maunya
kamu mengerti aku tanpa
aku harus menceritakan apa-apa

kepada dirimu tetang rasa aku
untuk semua rasa sayang aku
padamu yang berada dalam pelukan aku
dan yang lebih parahnya lagi
aku tak dapat juga tidak pernah
sama sekali  berfikir

jika aku tidak menceritakan
apa-apa kepadmu manamungkin
kamu dapat mengetahui
rasa yang aku rasakan terhadap dirimu
perempaunku yang terbaik dan terindah
yang pernah aku temui dalam hidupku nan singkat ini.



Afrissal.Ghizbayo
Yogyakarta : 08 / 04 / 2013