Jumaat, 12 April 2013

USIAKU 41 TAHUN (MABAPURA)



Oleh;
Muh zaid. Latawan (Mahasiswa Mabapura)

Aku dipindahkan dengan penuh cinta, sekalipun banyak menelan korban dan nyawa. Aku dipindahkan oleh para selir dan resih, (Om Haji Musa Kiye, Om Haji Ibrahim Maneke, Tete Nyong Cina, Tete Kios, Tete Bab, Tete rojau,). Sebagian dari mereka telah dipanggil sang Ilahi,(meninggal) dan ada yang masih hidup, Om Haji Musa Kiye, Om Haji Ibrahim Maneke.
Diriku mempunyai alam yang indah, pepohonan, dan lautan yang tenang. Panas tidak terlalu, dingin juga tidak terlalu. Kehidupan masyarakatku penuh taburan cinta,kasih, dan sayang.
Aku mempunyai tanah yang subur dan Pohon yang begitu menghijau melambangkan kemakmuran rakyatku, yang bertasbi dengan kalimat cinta, berzikir dengan kasih, dan sayangku. Lautan yang begitu tenang, masyarakat menyebutku berjalan dalam telaga melambangkan akan jiwa (hati) masyarakat yang sabar. Walaupun masyarakatku mempunyai banyak masalah.
Seore minyo talilamai, minyo duka rebalisa adalah jubaku yang di balut dengan tarian lalayon (Lailaha illaullah), sebuah kalimat tauhid (Allah).Aku mewariskan budaya pada anak-anak dan masyarakatku (Angaku rasai, sopan re santun, budi re bahasa, takut- malu, popoje sema gale-gale) sebagai fondasi kehidupan mereka.
Kini di usiaku 41 tahun, aku terhina dengan usiaku yang telah senja. Kehinaan di lakukan oleh anak-anak dan masyarakatku sendiri. Tanah, pohon, dan laut yang ada dalam diriku tidak lagi bertasbi,berzikir, atas nama cinta yang aku taburi pada anak-anak dan masyarakatku. Diriku tidak lagi ada harganya seperti seorang wanita yang tidak mempunyai harkat dan martabat di mata agama dan sosial. Lautan (hati/jiwa), telah di nodai dengan tintah merah oleh para kapal besar (ekspor) di hadapan wajah anak-anak dan masyarakatku. Tanah dan pohon yang dulunya hijau serta makmur kini di nodai oleh tenaga mesin (Buldoser), gusur seluruh tubuhku yang telah senjah ini, juga di saksikan oleh anak-anak dan masyarakatku sendiri.
Seluruh tubuhku dihancurkan oleh mereka, hanya satu harapan bagi anak-anak dan masyarakatku bahagia, bahagia,bahagia, bahagia, sekalipun aku harus menderita sampai pada akhir hayatku. Noda merah (tanah merah) yang ada dalam tubuhku, mudah-mudahan ini peristiwa padang karbala yang melanda ahlul bait, putra imam Ali buah hati Fatima az-zahra cucu Rasul (Imam Husain). Ku harapkan anak-anak dan masyarakatku mengingat peristiwa ini (bulan muharam/assurah).
Ternyata aku salah, salah, salah, salah, aku hanyalah sebuah kampung dengan nama mabapura yang di pindahkan pada tanggal 16 Desember 1971. Dan aku tidak akan mungkin menjadi padang karbala.
Wahai merpati-merpati putih yang sedang berjihad di bidang ilmu pengetahua. Aku merindukan tongkat nabi Musa, taburilah diriku dengan pengetahuan kalian, agar aku merasakan kenikmatan pengetahuan kalian. Aku mengihlaskan kalian beterbangan kenegeri saba. Negeri para ratu yang sadar akan hakekat sebuah keyakinan pada tuhan.
Wahai,, merpati-merpati pengetahuan rinduku pada kalian meruang dan mewaktu, sekalipun aku tidak tau warisan pengetahuan apa dan peradaban apa yang akan aku warisi.`









Tiada ulasan:

Catat Ulasan